h1

Selamat Berjihad Jaksa Agung Baru!

November 25, 2010

Dwi Yanto

Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan pengganti Hendarman Supandji. Presiden SBY langsung mengumumkan nama Jaksa Agung pengganti Hendarman Supandji dari internal Kejaksaan Agung. SBY memilih mantan Wakil Jaksa Agung Basrief Arief sebagai Jaksa Agung definitif. Rencananya Basrief Arief akan dilantik sebagai Jaksa Agung hari ini (26 November 2010).
Sepak terjangnya dalam pemberantasan korupsi memang tidak perlu diragukan lagi. Pria kelahiran Tanjung Enim, 23 Januari 1947 itu pernah menjadi Ketua Tim Pemburu Korupsi yang dibentuk oleh Kementerian Politik Hukum dan Keamanan. Di era kepemimpinan Basrief, Tim Pemburu Koruptor ini berhasil menangkap bekas Direktur Bank Sertivia David Nusa Wijaya yang merupakan terpidana kasus korupsi dana BLBI senilai Rp 1,3 triliun. Terakhir, kiprah Basrief Arief sebagai Panitia Seleksi Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK) pada 2010.
Polemik Jaksa Agung
Setelah sempat ramai tentang sah/tidaknya Hendarman Supandji mewarnai dunia hukum kita beberapa pecan terakhir, sekarang setidaknya mereda dengan adanya kepastian pengganti definitive Jaksa Agung Hendarman Supandji. Setidaknya ada dua pertanyaan tentang polemic yang mewarnai proses penggantian jaksa Agung kali ini. Pertama soal asal calon Jaksa Agung, dan kedua setelah jelas Basrief Arief yang ditunjuk sebagai Jaksa agung, pertanyaannya adalah apakah Jaksa Pensiun bisa menjadi Jaksa Agung.
Polemik tentang darimana asal Jaksa Agung baru pun terjawab sudah, setidaknya pilihan pilihan yang dilakukan Presiden SBY adalah pilihan kompromistis (akseptabilitas). Pilihan ini setidaknya bisa diterima oleh dua pandangan yang sebelumya berkembang tentang asal calon Jaksa Agung. Untuk kalangan yang mendukung jaksa Agung dari luar, figure Basrif bisa dianggap figur luar setidak-tidaknya posisi Basrief sekarang bukan sebagai Jaksa karir aktif dan bukan merupakan 8 kandidat calon Jaksa Agung yang diusulkan Jaksa Agung saat itu, Hendarman Supandji. Untuk kalangan yang mendukung Jaksa Agung dari dalam, Basrief dianggap karena Sosok Basrief Arief tidak asing untuk Kejaksaan Agung. Sebelum pensiun, Basrief Arief sempat menjabat sebagai Wakil Jaksa Agung di era Abdul Rahman Saleh. Dan banyak kalangan menilai, Basrief dinilai mampu diterima oleh semua kalangan, baik di dalam dan luar kejaksaan agung. Hubungannya dengan praktisi dan LSM terbilang cukup baik. Sehinga dengan posisi Basrief Arief yang menengahi dua pendapat yang berkembang tersebut, maka basrief dianggap solusi atas perbedaan wacana tentang asal Jaksa Agung. ,
Pertanyaan selanjutnya, apakah bisa Jaksa yang sudah pension/tidak aktif bisa menjadi Jaksa Agung?. Menurut pasal 20 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, syarat untuk menjadi Jaksa Agung hanyalah warga negara Indonesia, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berijazah paling rendah sarjana hukum, sehat jasmani dan rohani, berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela. Jaksa aktif, tidak aktif bahkan diluar Jaksa pun tidak masalah. Artinya basrief memenuhi syarat untuk menjadi Agung. Namun disini setidaknya bisa menjawab bahwa alasan memberhentikan Hendarman Supandji dengan alasan telah memasuki usia pension tidak tepat.
Tantangan Jaksa Agung
Salah satu tantangan yang menurut saya terberat bagi Jaksa Agung baru adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Korps Adhyaksa tersebut. Selama ini bahkan pada era sebelumnya, puncaknya era Hendarman Supandji banyak jaksa-jaksa yang katanya terbaik secara terbuka mempertontonkan dengan mudahnya kasus yang sedang mereka tangani diperjualbelikan. Mereka bersimbiosis dengan para pelaku tindak pidana (yang berkocek dalam tentunya) sehingga kasus bisa dikesampingkan asal sang jaksa dengan yang berperkara sama-sama untung. Bahkan parahnya, prilaku menyimpang ini tidak hanya berada di pusat saja, bahkan penyakit ini sudah menular ke daerah-daerah terpencil sekalipun secara turun temurun. Penyakit akut inilah yang harus segera diobati dengan melakukan reformasi di tubuh kejaksaan dan menciptakan terobosan kebijakan-kebijakan untuk membersihkan penyakit-penyakit ditubuh kejaksaan yang sudah menjadi anggapan masyarakat kita.
Tugas ini terbilang yang paling berat. Karena dalam tubuh kejaksaan sendiri sudah terbentuk kultur, sistem dan jaringan mafia kasus setan yang sudah akut sehingga membutuhkan energi luar biasa untuk memutus kultur, sistem dan jaringan mafia kasus melalui Reformasi secara sungguh-sungguh instansi kejaksaan.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana Kejaksaan meningkatkan kinerjanya yang dibuktikan dengan keberanian dari kejaksaan untuk menuntaskan kasus-kasus kakap termasuk salah satunya kasus Gayus Tambunan. Penegakkan Hukum yang dilakukan jangan sampai berakhir dengan dengan kompromi politik dan kompromi modal.
Apakah Jaksa Agung baru mampu mendampingi Presiden memberantas korupsi? Mampukah Jaksa Agung melakukan aneka terobosan besar guna menghentikan laju praktik korupsi yang sudah akut di negeri ini? Masyarakat sangat mengharapkan agar Kejaksaan Agung mampu menjawab harapan untuk memenuhi rasa keadilan. Mari apresiasi dan selamat berjihad Jaksa Agung baru!

Penulis alumni Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada
Analis Hukum dan Peraturan Perundang-undangan

One comment

  1. Keren Bos, masuk agregator politikana.com aja nih hehe



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: