h1

REVOLUSI BELUM SELESAI[1]

Juni 28, 2010

Kesalahan besar
tampaknya telah terjadi dalam memahami arti perjuangan kemerdekaan yang telah
dilakukan oleh para Bapak Pendiri Bangsa. Perjuangan kemerdekaan yang menuntut
pengorbanan harta, jiwa, dan raga itu, yang jelas-jelas dilatarbelakangi oleh
tekad untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari tindasan dan pengisapan ekonomi
yang dilakukan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda, selama ini cenderung lebih
difahami semata-mata sebagai perjuangan politik. Akibatnya, proklamasi
kemerdekaan dan Indonesia merdeka pun cenderung difahami semata-mata sebagai
peristiwa dan institusi politik.

Padahal, dengan
menyimak sejarah penjajahan selama 3,5 abad yang pernah dialami Bangsa
Indonesia, dengan mudah dapat diketahui bahwa perjuangan kemerdekaan yang
dilakukan oleh para Bapak Pendiri bangsa, terutama digerakkan oleh motif
ekonomi. Hal itu sejalan dengan motif penjajahan yang dilakukan oleh Pemerintah
Kolonial Belanda. Sebagaimana diketahui, motif penjajahan yang dilakukan Pemerintah
Kolonial Belanda terutama bukanlah motif politik, melainkan motif untuk
mengeruk keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dari bumi Indonesia.

Sebab itu, mudah
dimengerti, bila penjajahan selama 3,5 abad yang pernah dialami oleh Bangsa
Indonesia, bermula dari penjajahan yang
telah dilakukan oleh VOC. Sebagaimana diketahui, VOC adalah sebuah kongsi
dagang, bukan kongsi politik. Dalam menjajah Indonesia, tindakan pertama yang
dilakukan VOC bukanlah merebut kekuasaaan para raja Indonesia, melainkan
memonopoli perdagangan antar pulau di Indonesia. Musuh utama VOC dalam
melakukan monopoli perdagangan antar pulau itu bukanlah raja-raja Indonesia,
melainkan kongsi dagang Portugal yang sama-sama bermaksud mengeruk keuntungan
ekonomi dari Bumi Indonesia.

Dengan memahami asal
mula penjajahann tersebut, dapat disaksikan betapa penjajahan selama 3,5 abad
yang pernah dalami Bangsa Indonesia, baik yang dilakukan oleh VOC, Pemerintah Kolonial
Belanda, Pemerintahan Kolonial Inggris , maupun yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial
Jepang, pada dasarnya digerakkan oleh motif untuk mengeruk keuntungan ekonomi
sebesar-besarnya dari Bumi Indonesia. Dalam konteks VOC, motifnya bahkan sangat
sederhana, yaitu untuk mengeruk
keuntungan ekonomi guna melipatgandakan kekayaan perusahaan.

Kesimpulan tersebut
sejalan dengan kesimpulan yang pernah dikemukakan oleh Bung Karno dalam salah
satu tulisannya di harian Suluh Indonesia Muda, tahun 1928, ”soal jajahan
adalah soal rugi dan untung; soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal
kewajiban; soal ini adalah soal mencari hidup, soal business. Semua teori-teori tentang soal jajahan, baik yang
mengatakan bahwa penjajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakyat yang
menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakyat
pertuannya itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, …….semua teori-teori
itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan
bahwa soal jajahan ialah soal rejeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari
kehidupan.”

Karena
penjajahan terutama digerakkan oleh motif ekonomi, maka perjuangan kemerdekaan
dengan sendirinya tidak mungkin dapat direduksi semata-mata sebagai perjuangan
politik. Perjuanagan kemerdekaan yang menuntut pengorbanan harta, jiwa, dan
raga itu, terutama harus difahami sebagai perjuangan ekonomi. Konsekuensinya, proklamasi kemerdekaan dan
Indonesia merdeka pun tidak dapat direduksi sebagai peristiwa dan institusi politik, tetapi terutama harus
lebih difahami sebagai peristiwa dan institusi ekonomi.

Sebab itulah,
bila disimak pembukaan UUD 1945, pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) sejak semula tidak hanya diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan politik.
Sebagaimana diketahui, selain ditujukan untuk melindungi segenap tumpah darah
dan seluruh tanah air Indonesia, dan turut serta menciptakan perdamaian dunia,
NKRI dengan sadar didirikan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa. Artinya, proklamasi kemerdekaan dan Indonesia merdeka, sejak
semula memang dengan sadar ditujukan untuk menegakkan kedaulatan ekonomi rakyat
Indonesia di negeri mereka sendiri.

Bila demikian,
amanat pasal 33 UUD 1945 dengan sendirinya harus dilihat sebagai amanat yang
sangat penting kedudukannya dalam mengisi perjalanan Indonesia sebagai sebuah
bangsa merdeka. Artinya, karena perjuangan kemerdekaan sejak semula ditujukan
untuk menegakkan kedaulatan ekonomi rakyat, maka Indonesia merdeka, tidak dapat
tidak, harus dibangun untuk mencapai tujuan tersebut. Sesuai dengan bunyi
penjelasan Pasal 33 UUD 1945 (sebelum diamandemen), caranya adalah melembagakan
demokrasi ekonomi di Indonesia.

Konsekuensinya,
perjalanan Indonesia merdeka yang tidak diisi dengan menegakkan kedaulatan
ekonomi rakyat, lebih-lebih yang dengan sengaja ingin melecehkan pelembagaan
demokrasi ekonomi di Indonesia, harus dilihat sebagai suatu pengkhianatan
terhadap cita-cita perjuangan kemerdekaan. Tindakan tersebut juga harus dilihat
sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita proklamasi, dan sebagai kejahatan
terhadap kemerdekaan Indonesia.

Yang
mencengangkan, bila disimak perkembangan ekonomi Indonesia dalam lima tahun
belakangan ini, ternyata kecenderungan untuk meminggirkan kedaulatan ekonomi
rakyat danm demokrasi ekonomi itulah yang tampak menonjol. Bahkan, penjelasan Pasal
33 UUD 1945 yang mengamanatkan penyelenggaraan demokrasi ekonomi kini hanya ditempatkan
pada urutan keempat Pasal 33 UUD 1945.

Kenyataan tersebut
tentu memaksa kita untuk mempertanyakan arah yang sedang dituju oleh ekonomi
Indonesia. Hal tersebut juga memaksa kita untuk mengkaji ulang perjalanan
perjuangan kemerdekaan yang telah dicapai Indonesia. Benarkah Indonesia sudah
merdeka? siapakah sesungguhnya yang sedang berkuasa di Indonesia? Seperti pernah
disinyalir Bung Karno, jangan-jangan revolusi memang belum selesai?.
[1] Revrisond Baswir, dalam sebuah diskusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: